BOGOR – Menjelang akhir tahun 2025, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor mencatatkan capaian positif di sektor ekonomi. Berdasarkan data terbaru, realisasi investasi di Kabupaten Bogor hingga kuartal keempat tahun ini telah mencapai Rp 25,88 triliun, melampaui target awal yang ditetapkan sebesar Rp 23,4 triliun.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyatakan bahwa tren positif ini didorong oleh kepercayaan investor yang tetap tinggi terhadap potensi wilayah Bumi Tegar Beriman. Peningkatan investasi ini didominasi oleh sektor industri pengolahan, jasa, dan pengembangan kawasan hunian yang terintegrasi dengan transportasi publik.
Pemerataan Ekonomi Melalui DOB dan Infrastruktur
Selain angka investasi yang memuaskan, Pemkab Bogor kini tengah fokus pada percepatan pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah Bogor Timur dan Bogor Barat. Hal ini sejalan dengan rencana pemekaran wilayah atau Daerah Otonomi Baru (DOB) yang ditargetkan mulai berjalan efektif pada tahun 2026.
“Kita tidak ingin pembangunan hanya berpusat di tengah atau wilayah Cibinong saja. Pembangunan infrastruktur strategis, seperti jalan poros Tengah-Timur (Puncak II) dan perbaikan jalur logistik di Bogor Barat, menjadi prioritas untuk menekan ketimpangan ekonomi,” ujar Rudy Susmanto dalam agenda evaluasi akhir tahun.
Poin Penting Capaian Ekonomi Bogor 2025:
Realisasi Investasi: Rp 25,88 Triliun (110% dari target).
Sektor Unggulan: Industri Manufaktur, Pariwisata Puncak, dan Perdagangan/Jasa.
Proyek Strategis 2026: Kelanjutan Jalur Puncak II dan penataan empat simpang strategis (Gadog, Megamendung, Cikereteg, Pasir Muncang).
Target 2026: Peningkatan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di wilayah pelosok melalui kemudahan izin usaha UMKM.
Tantangan Pengentasan Kemiskinan
Meskipun angka investasi meroket, tantangan besar masih membayangi. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat bahwa besarnya investasi di kawasan Bogor Raya belum sepenuhnya berbanding lurus dengan penurunan angka kemiskinan secara signifikan.
Menanggapi hal tersebut, Sekda Kabupaten Bogor menegaskan bahwa pada tahun 2026, strategi ekonomi akan lebih difokuskan pada “Investasi Inklusif”. Artinya, setiap investor yang masuk wajib menyerap tenaga kerja lokal dan berkolaborasi dengan pengusaha kecil di sekitar lokasi proyek.
